Ilhensa's Blog

Just another WordPress.com weblog

DANGDUT

Aku ingin joged dangdut
mengusir pikiran yang kalut
dan sembelit di dalam perut
biar semua semaput kena goyang maut

Aku ingin nyanyi dangdut
sembuhkan mulut dari sariawan akut
mengumbar bau pesing dari mulut
kejutkan kutu yang hidup dirambut dan jembut

Aku ingin nyanyi sambil joged
dangdut…datdut…ditdut.

…dutdut….kentut!

Januari 31, 2010 Posted by | poems | 2 Komentar

SAWAH

Kelak jika kutemukan sawah
yang masih tersisa, dikampung dekat rumah
ingin kuajak kunang kunang yang kini masuk daftar
deretan yang kesekian tentang mahkluk punah
akibat dikunyah serakah
mahkluk sempurna bernama
manusia…

Kelak saat kutemukan sawah
akan kupenuhi janji, ajak bintang bernyanyi
lemaskan tubuhnya yang beku dan kaku
karena dipaksa bersolek indah dan terjaga
untuk manusia yang berpesta, dibalik sarung
bulan yang terisak menggerung

Kelak bila kutemukan sawah
aku ingin jadi kerbau saja
menarik bajak dengan tengkuk yang melepuh
dengan hidung berair nanah dan darah busuk
makan rumput basah, yang basah dikencingi manusia
dan pinggangku yang bengkak dicemeti
agar lajuku tak sering berhenti
agar sawah segera tumbuh padi
yang dilahirkan prematur,
penuhi perut perut manusia yang selalu kendur

Kini aku berdiri ditengah sawah
padi telah jadi rumput jepang, tubuhnya kerdil
lumpur telah jadi aspal dan beton yang menolak
pinangan air hujan yang sekarat
pematang telah menjadi besi besi angkuh
manusia bilang, minimalis arsitektur
biar pengemis tak sering datang ngelantur
belut belut jadi mandul, karena makan sabun
bekas cuci kemaluan dan dubur…

Lalu sawah kuberi pigura
paku di dinding jadi hiasan abadi
kelak bila anak cucu sangsi, mereka
cukup pandangi tubuhmu yang telanjang tanpa kemaluan
yang telah dikebiri…
Mandul…

Januari 31, 2010 Posted by | poems | Tinggalkan komentar

SELIMUT

Tuhan yang lembut
Aku butuh selimut
untuk tutupi tubuhku yang butut
di pojok istana tempat para lelembut.
Nyanyian bulan yang bergaun awan
hitam lusuh, seharian belum muntah
Tarian bintang menggoda, dalam tabuhan
mencebur ke dada tempat hati sembunyi
duuh…embun membuatnya menggigil.
Mana selimut, aku minta yang berhias api
agar hangat menyusupi, membuat gigil enyah
menyepi di pojok dekat kuburan sampah
berisi muntah orang dewasa yang mabuk
minum anggur asmara dari perasan darah.
Dalam kebisuan…kebekuan, tidak
denganMU Tuhan yang indah…
Aku bersujud.

Januari 31, 2010 Posted by | poems | 1 Komentar

MALAM MINGGU

Malam minggu
waktunya rindu dibalik kelambu.
Kita tindih ranjang
yang menjerit minta dipijit.
Kita goda nyamuk
yang sungutnya buntung ketiban puntung.

Malam minggu
waktunya mengumbar nafsu.
Kita pacu peluh, menggelontor disela embun
malam yang menangis tak punya teman, karena
dewi bulan dan pangeran bintang asyik masyuk
berpagut rindu dibalik awan kelabu.

Malam minggu
Saatnya enyahkan pilu
berbagi tubuh luluh dengan goyang
api dalam darah yang menggemuruh
dengan jantung yang megap megap.
Ekstase mendaki, menjilat daki
lalu setumpuk rayuan eksotis, upacara magis
yang hanya muncul seminggu sekali.
Saat malam minggu…

Mendaki…mendaki…
hati hati ranjangmu, tempat rayap bersetubuh.

Januari 31, 2010 Posted by | poems | 1 Komentar

EMPERAN

Pada emper sepi
saat bulan tengah sibuk
membersihkan wajah.
Mengusir hujan
biar emper tak lagi basah
untuk kau celentangi…
Perutmu teriak untuk
makam malam yang lagi,
kau lewati…dan lagi
Angin begitu senang, mencumbu
tubuhmu yang kering
hanya tulang dibalut kulit, dan
tenaga yang sedikit…
Bila sanggup kau bertahan
esok akan datang dan tetap sama
menyerang…
Hidupmu mengerang
mati kau ngeri
hidup untuk apa lagi
hanya sepi…berulang
di emper sepi dengan wajah bulan
yang tak bersih, sedang
bintang enggan kau hitungi…

Tidurlah celentang dan nikmati
kudapan laparmu…

Januari 31, 2010 Posted by | poems | Tinggalkan komentar

Di Bawah Beringin

Waktu itu aku duduk di samping kaki beringin
kakinya yang seribu tumbuh seperti kutil
mengkoyak koyak apa saja yang ada di sekeliling kakinya
juga batu batu yang konon katanya keras juga di hina
tubuhnya diaduk, batu bilang “aku tak punya air” tetapi
kutil kutilnya yang seperti belalai terus menghujam masuk
menguras tubuh batu yang memang sudah kering, sampai gering
akhirnya lebur, hancur, pupur, di rubahnya menjadi tanah.
Ahaa…kutil senang, dia dapat pujian dari induknya
daun daunya bertambah hijau merona, kutilnya semakin liar
mengembara ke pelupuk kulit bumi dan mengacau kacau di dalamnya
pestanya bubar, akibat kutil beringin yang seperti barbar.

Daun daunya bertambah banyak, rapat dan padat
seperti rangkaian orang sholat. Matahari sampai mencukur
jenggotnya yang tumbuh tak teratur, karena bulu bulu jenggotnya
tak bisa seperti kutil, menembus daun daun beringin yang rapat seperti dinding lahat.
Aku masih duduk, melihat ketanah memperhatikan rontokan jenggot
matahari yang seperti bola bola putih diatas lumut yang telah lama
menjadi musuh dinginya yang licin seperti belut.
Duuh…beringin seperti melahirkan angin, mengikat mataku di bulu bulu mata
dengan tali tali kecil lalu menariknya keras keras….dan aku mendengkur
di bawah beringin, diatas kutil kutilnya yang binal seperti kusir tertular rabies
akibat kudanya gemas dan menggigit bokongnya yang bau tai kuda…

dan aku mendengkur…semakin keras, tidak sadar saat hujan mengguyur deras
karena beringin begitu sayang kepadaku, menjaga tali ayunku, dan dia berbisik
diamlah disini lebih lama….sudah lapuk aku menunggu menahan rindu menggebu
kepadamu….ya, itu aku!

Januari 31, 2010 Posted by | poems | Tinggalkan komentar

Strawberry + Chocolate Melting

Ngobrol ngobrol lewat komen pada status
seorang sahabat, kembali mengingatkan aku
kepada seorang sahabat yang manis dan ayu
aku sangat mengaguminya…
Saat itu kita bertemu pada sebuah pujasera yang cukup
megah dan mewah yang hidup di dalam bangunan
yang para ibu ibu bilang sebuah mall mewah dan bergengsi.

Kita lama tidak bertemu dan tentunya banyak kisah dan cerita
yang kita tukar, di tengah suasana ruang yang begitu syahdu
dan untaian musik yang terdengar lirih dan asyik di telinga.
Kami memesan saja beberapa kudapan dan menikmatinya,
sebenarnya kita ada bertiga saat itu, namun yang seorang lagi
berlalu sebentar untuk mengunjungi undangan seorang teman
yang mengundangnya datang untuk menyampaikan salam.

Tinggallah kita berdua, sajian sudah habis lalu
kita memesan lagi menu baru yang kelihatanya nikmat
ya…Strawberry dengan chocolate melting dan beberapa potong
pisang ranum. Ahh…menggiurkan, untung sempat aku tenggak
liur yang nyaris mabur.
Seperti biasa, aku menjadi pendengar setianya yang seperti penyiar
handal menceritakan babak babak kehidupannya yang bagiku
nampak seperti sebuah sinetron yang terdiri dari beberapa session.
Aku sangat menikmatinya, sesekali dia nampak begitu sedih, namun
tiba tiba dia bisa tergelak tawa begitu hebat dengan indahnya,
ini yang aku suka dari sahabatku yang satu ini.
Sampai cerita itu habis dan sesaji menu yang baru saja sedikit kita nikmati
sampai terlupa saking seriusnya aku menelan satu persatu ceritanya
yang untukku kisah ini bisa aku jadikan inspirasi untukku menulis sebuah cerita.

Dan kita nikmati kudapan yang sudah kita pesan itu
dengan sumpit bambu yang berujung agak runcing, kita mulai
menusukkan strawberry merah dan agak besar itu lalu dicelupkan
ke dalam lumeran coklat yang hangat karena disaji dengan perapian dari lilin
dibawah wajanya. Ooooh…nikmat sekali, rasa asam mencekat dan sedikit manis
lalu dibaluti dengan lumeran coklat dengan rasa khasnya yang masih hangat.
Kita nikmati saja dengan khidmat menu istimewa ini dengan cerita cerita
yang sudah saling kita tukarkan…dan pertemuan ini selalu melahirkan rindu
yang baru lagi untuk kita tukarkan pada pertemuan yang selanjutnya.

Ceritanya…ceritaku, walau lebih banyak dia yang bercerita
seperti yang sudah aku ceritakan tadi, dia seperti pembaca naskah
yang tak pernah kehabisan kata, selalu ada yang baru dan selalu menarik.

Aku, sahabatku, strawberry, banana dan chocolate melting….aih nikmatnya

Januari 31, 2010 Posted by | Kisah | 1 Komentar

POHON JARAK

Pohon jarak di pinggiran kota
Berdiri tegak di tepi tepi sawah, yang kini
telah menjadi tumpukan tanah merah.
Tumbuhan padinya telah lama mati
Karena petaninya banyak yang kawin lari
lalu mendirikan rumah dan beranak pinak
diatas sawah sawah yang dulu biasa mereka gumuli
dan peras materi dari setiap bulirnya yang dipaksa tumbuh.
Sawah sawah tinggal cerita, hanya pohon jarak
berjajar yang buahnya digunduli, mereka
bilang bisa jadi minyak, pengganti energi kini
yang perlahan mulai kurus kehilangan gizi
kering dan menjurus mati…

Aku menghampiri pohon jarak itu
memegang tubuhnya yang mulai demam
terjangkit DBD yang sedang trendi mengendemi.
Menghisap darah lalu pergi, meninggalkan parasit
berkembang tumbuh memaksanya terus berbuah.
Pohon jarak sudah tak punya mahkota
Mahkotanya di gunduli untuk pencapaian materi
bekal mencari perempuan yang bisa di kawin siri…

Januari 31, 2010 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

TUAK

Aku ke pasar blora
mencari penjual tuak
untuk aku tenggak, langsung
dari bambu pelungnya
biar aku gila
biar aku sinting
biar aku mabuk
agar bisa menulis
puisi cinta sepertimu…

Januari 31, 2010 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

WAJAHMU

Wajahmu, sehabis hujan
Terbitkan bulan dalam rengkuhan
Pucuk angsana yang menangkup air
Menyimpan tubuhmu yang indah

Wajahmu, seusai hujan
Halau awan, menelanjang langit
Bintang nampak gingsulnya
Tersembul disudut rasi yang tak biasa

Wajahmu, setinggalnya hujan
Meluruh kembang kembang kertas
Melati yang tak begitu gembira, tetap
Hidup ikhlas dan indah demi wanginya

Wajahmu, sedatangnya hujan kembali
Menyimpan tarian tetasurya gembira
Gunung yang menancapkan ubun, dengan
Rambutnya yang putih mekar abadi

Wajahmu, saat hujan menggurat
Bulir bulirnya yang tempias pada wajahmu
Menyisakan pesan dari khasanah malam
Dan engkau adalah dewi berselendang embun
Yang warnanya meriahkan malam
Yang aromanya mengusir lamun
Yang keindahanya mengalahkan aorora.

Januari 31, 2010 Posted by | poems | Tinggalkan komentar